Kelopak Yang Meniupkan Angin #8

Dan dengan buas, sang adik menerjang. Menerkam. Mencakar. Mencabik.

Di antara dua,
selalu ada yang lebih lapar.
Bagi Luna, bulan sudah cukup.
Bunga sudah cukup.
Akar-akar tumbuhan sudah cukup.
Kehangatan yang ayahnya bagi lewat genggaman tangan dan pelukan ringan sudah lebih dari cukup.
Karena itu,
Victor selalu menjadi yang lebih lapar.

Dan dengan buas,
sang adik menerjang.
Menerkam.
Mencakar.
Mencabik.

Luna berpikir,
“Biarlah. Dia lapar.”

Namun Luna juga berpikir,
“Kau tidak seharusnya melakukan ini.”

Sragen, 28 April 2020

Author: Eta Wardana

I love a world made of stories, music, beautiful illustrations, warm drink, fresh fruits, and an ocean of knowledge.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: