BYMB: Ch. 01 – because of you i’m not wavering right now

Carmen merasa seperti terbakar. Kemarahan dan kegugupan–kekhawatiran–mengisi tubuhnya seperti minyak yang diumpankan pada kobaran api. Dalam hitungan jam, mungkin bahkan menit, ia akan terpaksa melepaskan kendali akan shirnya dan membakar sesuatu. Menghancurkan sesuatu.

Photo by Inga Seliverstova on Pexels.com

Seseorang pernah mengatakan padanya, vampir yang tidak memiliki hati tidak memiliki sihir.

Mungkin perkataan itu ada benarnya.

Saat ini, Carmen merasa seperti terbakar. Kemarahan dan kegugupan — kekhawatiran — mengisi tubuhnya seperti minyak yang diumpankan pada kobaran api. Ia tahu cepat atau lambat tubuhnya tak akan mampu menampung limpahan emosi itu. Dalam hitungan jam, mungkin bahkan menit, ia akan terpaksa melepaskan kendali akan sihirnya dan membakar sesuatu. Menghancurkan sesuatu.

Namun tidak sekarang.

Ia melangkah menyusuri koridor menuju kamar tidur di paling ujung, satu-satunya yang pintunya disegel dengan sihir. Napasnya masih teratur, meski ia tahu kestabilan itu tidak akan bertahan lama. Begitu ia menyelesaikan apa yang hendak ia lakukan, ia tidak akan menahan diri lagi. Peduli setan dengan mansion Dominic yang tak bisa dibandingkan dengan mansion pribadi Carmen di kediaman House of Ruby. Peduli setan dengan tugas Marcus untuk menjaga perbatasan kerajaan. Peduli setan dengan tugas Carmen sendiri untuk memastikan House of Ruby masih berkuasa dan memiliki kesetiaan keluarga Dominic.

Karena malam ini, jika ia gagal, tidak akan ada yang tersisa dari keluarga Dominic untuk diminta sumpah setianya.

Dan lebih dari itu, Carmen mungkin akan kehilangan satu-satunya kebahagiaan yang pernah ia miliki di dunia ini.

Ketika akhirnya ia sampai di depan kamar, bunga-bunga api sudah memercik dari tangannya. Carmen menyentuh gagang pintu, menggumamkan mantra pembuka segel, kemudian mendorong pintunya hingga terbuka. Sebelum daun pintu bisa menghantam dinding dan mengeluarkan suara keras yang tidak ia inginkan, kobaran api telah mengubah potongan kayu itu menjadi abu. Hal itu mungkin akan mengganggunya di lain hari — fakta bahwa kamar yang disegel oleh sihir hanya berpintukan kayu yang mudah terbakar — tapi benaknya dirangseki begitu banyak hal sehingga ia sama sekali tidak mempedulikannya.

Luna sedang duduk di atas tempat tidur dan segera bangkit begitu melihat Carmen. Gadis itu tampak kebingungan, yang bisa Carmen pahami. Segel pintu tidak seharusnya dibuka sebelum fajar datang, dan saat ini masih tengah malam. Bahkan dari balik tirai yang tertutup, Carmen bisa melihat siluet bulan purnama di langit.

“Nyonya!” kata Luna. “Kenapa Anda–“

Carmen memotong pertanyaannya dengan satu sentakan di lengan atas Luna. Ia menarik napas dalam, kemudian menunduk untuk menatap gadis itu lekat-lekat. Mata merah Luna memantulkan ekspresi wajah Carmen yang tegang.

“Kau harus membawa Viktor pergi.”

Tepat saat itu terdengar suara seseorang mengerang di lantai bawah. Carmen mengenalinya sebagai suara Dominic. Luna menoleh ke arah pintu, seolah hendak berlari menuju suara itu, tapi Carmen kembali menyentakkan lengannya.

“Nyonya–“

“Dengar aku: kau harus membawa Victor pergi.” Carmen mengulang. “Bawa dia pergi dari sini. Cari tempat yang aman. Dan jangan kembali lagi ke sini apapun yang terjadi, kau mengerti?”

Luna menggigit bibir. “Tempat yang aman… kemana?”

Tangan Carmen mengeluarkan seuntai kalung dari sarung pedang di sisi kanan tubuhnya. Ia sudah menyimpan kalung itu selama bertahun-tahun, terbebani oleh janji yang ia berikan pada seorang perempuan yang pernah menjadi sumber segala penderitaannya, dan sudah saatnya kalung itu berganti pemilik. Untaian besinya terasa dingin pada telapak tangan Carmen yang sesekali masih memercikkan bunga api. Ia meletakkan kalung itu dalam genggaman tangan Luna, yang pucat kulitnya langsung merona begitu tersentuh dengan bandul kristal kalung tersebut. Dari balik telinga Luna, Carmen bisa melihat sulur-sulur tanaman mulai tumbuh. Hal itu membuatnya tersenyum. “Luna adalah nama yang dia pilih.”

Si pemilik nama mengangkat wajah. “Siapa?”

“Kalung itu akan membawa kalian ke tempat yang aman. Kau akan menemukan rumah yang baru.” Carmen meremas bahu Luna. “Permintaanku hanya satu: jaga Viktor baik-baik. Aku tidak akan memaafkanmu jika dia tidak berhasil selamat dari ini.”

“Nyonya–“

Di bawah, Dominic kembali berteriak. Dan kali ini, Carmen bisa merasakan getaran sihir merambat di udara bersama menguarnya bau asap. Terdengar sebuah ledakan. Lebih banyak teriakan. Carmen tahu waktunya telah habis.

“Viktor ada di bawah.” Untuk terakhir kalinya, Carmen mengulas senyum. Angin tiba-tiba bertiup kencang, memperbesar jejak kobaran api yang ditinggalkan Carmen dari tempat terbakarnya daun pintu kamar Luna. Bersama suara ledakan lain, jendela kamar tiba-tiba terhempas terbuka dan sinar rembulan menyeruak masuk, membentuk bayangan gelap di belakang Carmen. “Selamat tinggal, gadis hutan.”

Lebih banyak api. Lebih banyak ledakan. Dan Luna terlempar keluar jendela.

Author: Eta Wardana

I love a world made of stories, music, beautiful illustrations, warm drink, fresh fruits, and an ocean of knowledge.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: