Autumn Wind

It’s not yet November but I can feel a future without you lingering around. There are letters I need to discard, clothes that I ought to burn, the scent of perfume I need to air out, and a flame inside my heart I need to extinguish.

Anger isn’t supposed to define me, but what words could I say to the memory of you? So I tear through dozens of papers, wishing you bleed and disappear into every surface. It’s not yet November, but I’m already getting ready to move on.

The house is still filled up with nostalgia. My eyes jump from one window to another, wondering which one holds your touch the most, a place you often lean on. I change the curtain, spray water to the glasses. Your reflection is captured within the frozen mirror–there’s no way I could ignore that.

October will pass soon, and I’ll forget about you soon. It’s not even a matter of time–I’ll forget you because I forget all the people that leave from my life. That’s how heartless I am. That’s how much of a coward I am.

I bury all the feelings, knowing that’s the only way I can survive. Freeze every emotions, say goodbye even though I’m in denial. I don’t know how to treasure you. I also don’t know how to properly saying farewell.

It’s not yet November and there is still a flame of anger inside my chest. A result of betrayal. A blanket of insecurity. I told myself I’m not worthy of love. I also told myself you’re the one who’s at fault. Maybe no one is right. It’s going to be November after all.

Moving on from you is as easy as closing my eyes under the glaringly heavy sun. It’s always easy to pretend that you’re blind.

Depok, 29 Oktober 2019

Sunflowers, and Memories of the Future

#Poetry

I’ll see you again at the end of yesterday

With a smile and maybe a glitter of stardust

Coming down from the bottom of my eyes

Are the bittersweet taste of nostalgia

I’ll see you again in the unknown

With lingering hope of the memories

Left behind under the scorching heat of summer sun

Is the heavy feeling of unexpected farewell

I’ll see you again maybe in the past

With the fear of what future might bring

Floating away to the far shore of destiny

Is us, not knowing where to stand after the long due reunited present

Depok, 27 Oktober 2019

Petrichor, Ketika Hujan Hanya Meninggalkan Jejak Untukku Seorang

Ada seorang gadis yang namanya kutulis berulang-ulang di antara serpihan cermin. Terkadang dengan tumpahan tinta. Terkadang dengan tetesan krayon terbakar. Terkadang dengan sisa air mata.

Ada seorang gadis yang namanya kutulis berulang-ulang di antara serpihan cermin.
Terkadang dengan tumpahan tinta.
Terkadang dengan tetesan krayon terbakar.
Terkadang dengan sisa air mata.
Ada seorang gadis yang namanya tidak bisa berhenti kugumamkan di antara doa.
Terkadang aku mengharapkan kebahagiaan.
Terkadang aku menginginkan sebentuk penerimaan.
Terkadang aku tidak ingin menjadi satu-satunya yang terluka.
Ada seorang gadis yang namanya berusaha kulupa.
Terkadang kuhapus dengan tumpukan pekerjaan.
Terkadang kubuang bersama perjalanan panjang ke belahan lain dunia.
Terkadang kukubur bersama barang-barang yang masih menyimpan aromanya.
Ada seorang gadis yang namanya terlalu menyakitkan untuk didengar.
Terkadang tersebut oleh temanku dalam reuni percakapan.
Terkadang mengambang dalam pertanyaan penuh kekhawatiran.
Terkadang didesiskan bersama argumen yang menyuruhku kembali pada rasionalitas.
Ada seorang gadis yang namanya melambangkan lebih dari satu perasaan.
Terkadang aku menganggapnya cinta.
Terkadang aku yakin itu obsesi belaka.
Terkadang aku sadar bahwa ada hati yang tidak pernah berhenti patah.
Ada seorang gadis yang tidak menginginkan namanya berada dalam genggaman.
Sebab ia mengganti alamat.
Sebab ia tak menjawab panggilan.
Sebab ia tak lagi bercakap dengan teman yang kupunya.
Sebab ia tak lagi menoleh ke belakang meski aku berteriak meraung merana.

24 Januari 2019

the sun still shines

Akhir-akhir ini, semua puisi yang kutulis mengambil kepingan kenangan tentang dirimu, mengisi nostalgia dengan lebih dari sekadar kata rindu. Aku tidak pernah rindu, terutama tidak kepadamu. Terutama tidak ketika aku berada jauh dari tempat yang pernah kita sebut milik berdua. (Kau dengar kebohongan? Ada lebih dari satu kutulis dalam bait ini. Jika kau masih ada, kau akan sadar. Tidak ada orang yang lebih mengenalku daripada dirimu.)

Desktop Wallpaper Template

Dua puluh lima hari setelah kau pergi, aku menengadah dan dibutakan oleh matahari. Langit rasanya tidak pernah secerah ini dalam beberapa minggu terakhir. Jika kau menuduh bahwa duka telah membuat pandanganku kabur, aku akan terpaksa membantah. Ini fakta: langit belum pernah secerah ini sebelumnya.
Kau mungkin ingat apa yang sering kukatakan setelah memakai kacamata baru, bagaimana pemandangan di sekelilingku berubah jelas, seolah-olah selama ini aku membuka mata tanpa benar-benar melihat. Bagaimana warna bisa menjadi tajam, seolah-olah ada garis yang ditambahkan untuk memisahkan setiap perubahan gradasi. Kurang lebih, hari seperti itu yang tengah kujumpai. Dua puluh lima hari setelah kau pergi, aku menengadah, dan meski aku tidak percaya akuu bisa menemukanmu di atas sana, separuh hatiku berharap.
Akhir-akhir ini, semua puisi yang kutulis mengambil kepingan kenangan tentang dirimu, mengisi nostalgia dengan lebih dari sekadar kata rindu. Aku tidak pernah rindu, terutama tidak kepadamu. Terutama tidak ketika aku berada jauh dari tempat yang pernah kita sebut milik berdua. (Kau dengar kebohongan? Ada lebih dari satu kutulis dalam bait ini. Jika kau masih ada, kau akan sadar. Tidak ada orang yang lebih mengenalku daripada dirimu.)
Bagiku, kepergianmu merampas. Ada satu zona yang kusisakan kosong untukmu, kuisi dengan tekad melanjutkan hidup yang kudapat darimu. Kemudian kau pergi, dan kekosongannya tidak lagi memiliki pemilik. Aku perlu belajar bertahan hidup lagi. Aku perlu belajar melangkahkan kaki sendirian lagi. Dan, oh, aku akan belajar (kau tahu betapa takutnya aku pada kehampaan). Aku hanya tidak tahu dahan mana yang perlu kuraih sebelum aku kembali tersandung. (Kau akan bilang: biarkanlah dirimu jatuh.)
Hari ini dua puluh lima hari setelah kau pergi. Kukatakan, aku baik-baik saja. Duniaku masih sama; retak, tapi masih tegak. Warnanya berubah karena kini kau harus melihatnya dari sudut yang berbeda. Aku tidak tahu kau di mana. Aku tidak percaya aku bisa menemukanmu di atas sana, bahkan di saat langit sedang cerah. Bisikanmu masih sama pula: lihat ke langit.
Aku menengadah, lalu dibutakan oleh matahari. Katamu selalu: tidak pernah ada jalan buntu.
(Depok, 16 November 2018
Eta Wardana)

us, in impermanence

Kita bisa mengulang, tapi aku menolak lupa. Maka alih-alih berada di garis awal, akan kulanjutkan menjalin benang yang sempat bercabang dan berpisah. Kita bisa mengulang, tapi garis matamu adalah satu yang tak bisa dilupa.

Kita bisa mengulang, tapi aku menolak lupa. Maka alih-alih berada di garis awal, akan kulanjutkan menjalin benang yang sempat bercabang dan berpisah. Kita bisa mengulang, tapi garis matamu adalah satu yang tak bisa dilupa. Maka alih-alih jatuh cinta, yang ada hanya kerinduan akan sesuatu yang pernah kita miliki di suatu masa. Kita bisa mengulang, tapi satu pertanyaan masih tersisa; di antara aku dan dunia, engkau dan mimpi terpendam–mana yang layak untuk dikorbankan?

Satu hal jelas: kita tidak akan memilih satu sama lain. Maka biarlah apa yang terjadi, terjadi. Mari melangkah dari titik di mana kita sempat berakhir.

Satu hal belum jelas: kemana kita akan melangkah dari titik yang sempat mengakhiri?

Depok, 24 Maret 2018

for all we know we’re together

Kau tahu aku akan mengejar. Aku tahu kau akan mengejar. Dan kita sama-sama tahu di antara kita tidak ada yang akan tertinggal.

Empat langkah, empat langkah, empat langkah. Kemudian kita akan melompat dan menumbuhkan sayap dan semua yang dibenci akan tertinggal di belakang. Semua yang tidak ingin mengejar akan tertinggal di belakang.

Kau tahu siapa. Aku tahu siapa. Maka di antara kita tidak perlu ada kata.

Kau tahu aku akan mengejar. Aku tahu kau akan mengejar. Dan kita sama-sama tahu di antara kita tidak ada yang akan tertinggal.

Depok, 12 Januari 2018

Puisi: tentang bagaimana aku tidak lagi membiarkanmu ada

Suatu hari aku mengangkat telepon dan suaramu menggemuruh bersama bunyi statis komunikasi tanpa tatap wajah. Aku tertawa. Kau satu-satunya orang yang bisa membuatku tertawa.

2018: tentang mengapa aku pernah membiarkanmu ada

bagian i:
JANUARI.
Hujan. Favorit. Kebingungan. Penghiburan.
Suatu hari aku mengangkat telepon dan suaramu menggemuruh bersama bunyi statis komunikasi tanpa tatap wajah. Aku tertawa. Kau satu-satunya orang yang bisa membuatku tertawa. (Dulu, tidak lagi, bukan satu-satunya sekarang, mengapa berubah?)
(Kurasa aku yang berubah.)

 

 
Bintang jatuh. Bintang mati. Supernova. Lubang hitam. Januari. Ah, Januari.

 

Bahkan dari jarak 78 km, aku bisa merasakan senyummu mengembang.
“Selamat ulang tahun!” Kau bilang, serupa seperti satu tahun lalu, dua tahun lalu, atau bahkan tiga minggu setelah kita pertama kali bertemu (Terlalu cepat dekat, bukankah begitu?) Tapi ini kita–kau dan aku.
Ini aku. Ini engkau. Ini kita.
(Bagaimana sekarang?)
Itu aku. Itu engkau. Di mana kita?
(Mengapa perlu ditanyakan sekarang?)
 
2018: tentang bagaimana aku tidak lagi membiarkanmu ada

 

in dark, there is fire

Mati seperti tawa yang padam sebelum usai. Mati seperti senyum yang pudar sebelum habis.

Hatiku yang mati ini tidak menginginkan apapun. Tinggal daging berdegup yang terus berdetak tanpa henti, sudah tak mampu lagi mengecap bibit dari keserakahan. Hatiku yang mati ini telah lelah hidup, meski enggan membagi napas dengan orang lain. Hatiku yang mati ini masih terjebak di dunia orang-orang hidup, karena sesungguhnya ia tidak ingin mati. Namun hatiku ini mati dan tiap degupnya mewakili kegagalanku untuk menjalani hidup.

Hatiku mati, kau dengar? Mati. Mati seperti tawa yang padam sebelum usai. Mati seperti senyum yang pudar sebelum habis. Mati seperti bayi yang tercekik di antara tangis.

Dan kau bukan pijar, bukan angin. Takkan mampu menjadikan hembus napas letih ini lebih berarti. Takkan mampu mengganti degup sekarat ini bersemangat lagi. Kau adalah tawa juga senyum, tapi euforia-mu tak memiliki makna lebih dari sekadar fenomena. Halunasi. Ilusi belaka. Kau adalah manusia dan hatimu merasa; berduka mungkin, karena aku, tapi tetap membentuk dan menampung emosi fana. Namun hatiku ini—hatiku yang mati ini—telah mati.

Terlalu sulitkah bagimu untuk memahami?

2016

hopeless = loneliness

Aku bermimpi tentang banyak hal. Tentang hujan. Tentang langit. Tentang dunia. Tentang aku di tubuh orang lain yang sedang menatap diriku sendiri. Tentang masa depan. Tentang masa lalu. Tentang bayangan yang mengejarku di kegelapan dan binar yang mencoba mencabikku dalam terang. Kadang-kadang, aku juga bermimpi tentang kau.

Aku bermimpi tentang banyak hal. Tentang hujan. Tentang langit. Tentang dunia. Tentang aku di tubuh orang lain yang sedang menatap diriku sendiri. Tentang masa depan. Tentang masa lalu. Tentang bayangan yang mengejarku di kegelapan dan binar yang mencoba mencabikku dalam terang. Kadang-kadang, aku juga bermimpi tentang kau.

Kata-kata yang kutulis di atas kertas belum tentu kejujuran, tapi bukanlah sepenuhnya kebohongan. Aku tidak tahu emosi apa yang sedang mengalir dari getaran tanganku menuju tinta hitam yang menggores kekosongan. Apatisme, mungkin. Atau keputusasaan. Harapan semu dari seseorang yang telah membunuh hatinya namun ingin mengecap indahnya perasaan lagi. Kau tahu aku egois. Kau tahu aku kejam. Tapi aku juga adalah bentuk lain dari kerapuhan; kristal tajam yang melindungi sebuah kehampaan.

Aku bahkan tidak tahu siapa engkau, meski aku berharap aku akan segera mengorek lebih banyak darimu. Aku ingin tahu siapa engkau, meski kau tidak ingin diketahui oleh siapapun. Apakah aku sedang berbicara dengan dirimu sekarang? Ataukah kau tengah membisu mendengarkanku bermonolog dengan sesuatu yang tak pernah ada? Kasihanilah aku. Dunia ini ramai, tapi aku berpura-pura tuli dan berpura-pura dalam sunyi dan berkata aku hanya sendirian.

Aku menginginkan engkau—siapapun engkau—orang macam apapun kau. Bahkan jika kau bukanlah manusia, tak mengapa.

Karena kadang-kadang aku juga bermimpi tentang diriku yang bukan manusia.

2016

it’s always about first

Aku rabun jauh, hingga dalam mimpi pun, raut muka seseorang tak nampak jelas. Namun aku tahu itu kau, karena siapa lagi kalau bukan kau? Di luar sana bintang berkelip, tanpa henti, dan hatiku yang gundah memaksa benakku sejenak merangkai figurmu pada permukaan langit-langit kamar yang jauh dari jangkauan.

Aku melupakanmu berkali-kali. Aku mengingatmu lagi dan lagi. Ada sesuatu yang konstan dalam perasaan mendamba yang tak berani kuungkapkan ini. Ada sesuatu yang tak berubah bahkan setelah bertahun-tahun aku mencoba berpaling.

Aku rabun jauh, hingga dalam mimpi pun, raut muka seseorang tak nampak jelas. Namun aku tahu itu kau, karena siapa lagi kalau bukan kau? Di luar sana bintang berkelip, tanpa henti, dan hatiku yang gundah memaksa benakku sejenak merangkai figurmu pada permukaan langit-langit kamar yang jauh dari jangkauan.
Aku terlalu muda untuk terus terpaku pada satu titik di masa lalu. Tiap kenangan terasa semu, membuatku ingin berlari kembali dan memeriksa satu demi satu emosi yang tersimpan di sana. Apakah nyata? Apakah bukan khayalan? Apakah tanganmu benar-benar pernah ada dalam genggamanku pada suatu masa?
Ah, bagaimana nasibku jika kenangan tentang dirimu ternyata dimiliki oleh ilusi maya? Betapa merasa bodoh aku, merindukan seseorang yang sesungguhnya tak pernah ada dalam memoriku.
Ratusan senja (sanggupkah melebihi kata ‘ribu’?) telah kulalui, dan tak selalu sosokmu terbayang lewat malam yang mengikuti. Lebih sering, aku tak mengingat, terlalu letih dijadikan budak realita. Namun di malam-malam ketika suaramu mengisi alam bawah sadar, momen-momen itulah yang memberitahuku bahwa nampaknya aku akan terjebak untuk waktu yang tak ada batasnya.
Obsesiku padamu disimbolkan oleh sepasang mata elang sang pengawas. Takkan kau dengar kepakan sayapku, terlalu jauh aku terbang di antara mega. Namun kuharap kau tahu aku ada. Paling tidak percayalah bahwa meski sesekali aku akan merasa lelah dan memutuskan untuk kembali ke sarang, eksistensimu dalam mimpiku tidak sepenuhnya memudar. Tidak akan, nampaknya.
Aku tidak ingin menyebutnya cinta karena kau masihlah individu yang terpisah dariku. Kau yang kupandang di antara remang adalah kau yang terus berubah di dunia yang tak bisa kurengkuh hanya dengan sekedar pengharapan. Itu adalah kau yang mungkin tak lagi kukenal. Itu adalah kau yang selalu ingin kukenang.
Jika aku bertemu denganmu lagi di suatu titik di masa depan dan melihat satu sisi darimu yang tidak pernah kuingat, aku percaya bahwa obsesiku padamu kelak tidak akan berubah. Aku masihlah aku, dan kau masih tak tergantikan.
Bahkan bila kiranya bintang mengusirmu dari mimpiku, entah bagaimana aku akan tetap menyusun figurmu di antara pekat malam.
Kau akan terlupakan lagi dan lagi. Aku akan mengingatmu terus berkali-kali. []