Puisi: tentang bagaimana aku tidak lagi membiarkanmu ada

Suatu hari aku mengangkat telepon dan suaramu menggemuruh bersama bunyi statis komunikasi tanpa tatap wajah. Aku tertawa. Kau satu-satunya orang yang bisa membuatku tertawa.

2018: tentang mengapa aku pernah membiarkanmu ada

bagian i:
JANUARI.
Hujan. Favorit. Kebingungan. Penghiburan.
Suatu hari aku mengangkat telepon dan suaramu menggemuruh bersama bunyi statis komunikasi tanpa tatap wajah. Aku tertawa. Kau satu-satunya orang yang bisa membuatku tertawa. (Dulu, tidak lagi, bukan satu-satunya sekarang, mengapa berubah?)
(Kurasa aku yang berubah.)

 

 
Bintang jatuh. Bintang mati. Supernova. Lubang hitam. Januari. Ah, Januari.

 

Bahkan dari jarak 78 km, aku bisa merasakan senyummu mengembang.
“Selamat ulang tahun!” Kau bilang, serupa seperti satu tahun lalu, dua tahun lalu, atau bahkan tiga minggu setelah kita pertama kali bertemu (Terlalu cepat dekat, bukankah begitu?) Tapi ini kita–kau dan aku.
Ini aku. Ini engkau. Ini kita.
(Bagaimana sekarang?)
Itu aku. Itu engkau. Di mana kita?
(Mengapa perlu ditanyakan sekarang?)
 
2018: tentang bagaimana aku tidak lagi membiarkanmu ada

 

Puisi: brightly dimming you

Source: https://static.zerochan.net/Gemi.full.506037.jpg

Aku mengingatmu pada saat bintang jatuh, hanya pada saat bintang jatuh, dan hanya selama bintang itu jatuh.

Jika pada malam tak kubuka jendela kamar, tak akan kulihat. Maka aku tak akan mengingatmu, tak akan mengenangmu, tak akan sadar bahwa kau pernah ada. Memoriku, yang datang dan pergi seperti ombak, tetapi kadang terseret jauh ke dalam palung tanpa dasar, tidak memiliki tempat permanen untuk eksistensimu.




(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});

Kau sebut aku nama. Pandangku ‘kan bertanya, “Kau siapa?”
Sebab rangkaian tahun telah berlalu tanpa bintang jatuh.
Engkau, hanya terwakili lewat kilatan cahaya yang sejenak menghiasi langit berpurnama, telah terlupakan.
Bintang jatuh yang lain mungkin tak akan pernah tiba.
Eta Wardana
Depok.
Pertama kali dipublikasikan melalui Line pada 10 September 2017.




(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});

Puisi: always a step behind now

Source: https://static.zerochan.net/Yuuhei.full.346913.jpg



(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});

Kau bilang, “Lihatlah bintang.” Namun langit di sini setengah hari lebih lambat dari langitmu, maka yang bisa kulihat hanyalah masa depan yang tak (belum) bisa kujangkau dan jejak-jejak masa lalu yang entah mengapa menolak untuk pergi.

Kau bilang, “Rasakan angin.” Namun aku berada puluhan kilometer di bawah permukaan yang kau pijak, maka udara di sini stagnan dan pesan yang kau tiupkan bersama harapan tak (belum) akan sampai.
Kau bilang, “Hirup aroma musim gugur.” Namun di sini hanya ada tetesan hujan dan guguran daun yang masih kalah jauh dari tumpukan mati helai cokelat di jalanan yang kau susuri, maka aku menutup mata dan berpura-pura bahwa aku berada (jauh) di sampingmu.
Kubilang, “Tunggulah tiga, empat tahun.” Namun seberapa besar bagian dari diri kita yang telah berubah ketika waktu yang dijanjikan itu tiba? Apakah kita masih bisa memandang bintang dengan memori yang tak menyakitkan nantinya? Apakah kita masih bisa merasakan angin tanpa tercabik nostalgia nantinya? Apakah kita masih bisa menghirup aroma musim gugur tanpa merasa tercampakkan nantinya?

Eta Wardana
Depok.
Pertama kali dipublikasikan melalui Line pada 8 Oktober 2017.

Puisi: forever is not ours

Source: https://static.zerochan.net/Juuyonkou.full.1117057.jpg



(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});

Kepada dirimu yang berkali-kali menolak untuk berpisah.

Jadi ini yang terakhir, kukatakan sekali lagi bahwa ini bukan tentang jarak, bukan tentang baris-baris yang tertulis dan baris-baris yang terucap melintasi separuh dunia. Ini bukan tentang kejenuhan, bukan tentang bagaimana mataku tak merindukanmu bahkan ketika kau tak ada dalam pandangan, bagaimana diriku tak menginginkanmu dekat bahkan saat langit yang kita lihat tidaklah sama.

Ini bukan tentang aku, bukan juga tentang kau (atau setidaknya begitulah aku berharap). Ini tentang bagaimana aku melihat masa depan dan memahami bahwa titik di mana kita berakhir tidak berada di sana.

Karena di sinilah kita perlu mengucapkan selamat tinggal.

Kepada dirimu yang berkali-kali menolak untuk berpisah:

Jangan salahkan dirimu. Jangan terpaku padaku. ‘Kita’ berakhir untuk sebuah kehidupan yang lain, bukan untuk menamatkan kisah yang baru separuh berjalan ini.

Selamat tinggal. Mulai saat ini, aku bukan tokoh utama dalam ceritamu. Dan kau bukan lagi bagian integral dari buku hidupku.

Selamat tinggal. Terima kasih telah menyerahkan tiga tahun dirimu bersamaku.

(untuk seorang raja, yang pernah menjadi sang raja)
(forever is not ours, but i’ll remember)

Eta Wardana
Depok.
Pertama kali dipublikasikan melalui Line pada 18 November 2017.

Puisi: Batas Redup Terang

Source: https://static.zerochan.net/Blind.Justice.full.1060904.jpg



(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});

Melangkah masuklah ke kegelapan
bawa pudar cahaya yang bulan serahkan
Apakah kau lihat jalan, ksatria perang?
Akankah kau temukan jalan, Hai Yang Diberkati Tuhan?

Hari ini musim ‘kan berganti, penyihir malam

Matamu tinggal serpih debu, tertelan fajar
Mentari takkan datang, siang ‘kan kelam
Namun petang takkan disambut, takkan tersebar

Jiwamu mati, sekarat direnggut Raga-Raga Tanpa Hati
Hatimu perih, meledak jadi pecah keping serbuk pasir putih

Melangkah masuklah ke kegelapan
bawa obor terang api sinyal perang
Apakah kau mampu keluar, prajurit awan?
Apakah kau menang pertempuran, Sang Putera Yang Hilang?


(Semarang, 2014
Eta Wardana)

Puisi: Sebelum Aubade Berlaga

Source: https://static.zerochan.net/108.%28artist%29.full.419334.jpg



(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});

Aku melihatmu tumbuh,
berbalut tubuh rapuh, kembangkan cangkang nuansa tangguh
Aku melihatmu luruh,
berjuang sembunyikan sedu, berlindung kanopi tempat teduh
Aku melihatmu jatuh,
tak perlu menangis gaduh, biarkan lukamu kubasuh


Aku melihatmu jauh,

tiap kau berlalu, pura tak acuh, lagi matamu tanpa labuh
Aku melihatmu bak malaikat mungil bersayap,
kilau di mata gelap, biarkan terlelap, cobalah tetap gemerlap
Aku tahu kau sadar, meski tak pernah kuungkap dengan radar
tapi sekali ini, ijinkanlah,
bentuk tunggal salam perpisahan,
kukata, “Aku menyayangimu. Sampai jumpa.”
Kugaungkan aubade, wajahmu tak kunjung lenyap,
(semoga selamat tinggal tak perlu kuucap)


(Sragen, 12 April 2013)

Puisi: Dari yang Terjebak dalam Senja

Source: https://static.zerochan.net/108.%28artist%29.full.1234209.jpg



(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});

Bila tulangmu meluruh jadi abu,
takkan kukubur,
‘kan kutebar hingga terbang disambut angin pelipur
Merangsek kanopi hutan,
menggurat hitam pada mega belum bernama
Sumpahku aku takkan lupa
takkan kubiarkan alam lupa
takkan kubiarkan namamu buyar ditelan masa

Lagi, mana daya aku lupa?
Bahkan mentari menyimpan satu berkas dirimu dalam hangat sinarnya
Jika remang mencuri cahaya, sosokmu hadir menipu realita
Jika aku berpura-pura buta, manifestasimu berubah luar biasa nyata
Jiwaku dengan angkuh berkata: “Kau takkan mampu lupa.”


Maka biarlah abumu mengarungi angkasa
menyapa dengan sayap-sayap tak kasat mata
Ringan, laksana terlepas semua beban
tak sadar bahwa jari-jariku terentang
haus akan keberadaan
lapar akan kebersamaan
dan benci,
ah, tak terkira benci,
pada batas hidup-mati
pada benar yang kuharap hanya ilusi

Bahkan meski bisikmu membujuk, menghibur, meminta,
aku tak bersedia lupa.
(Semarang, 9 Agustus 2016)

Puisi: Bilamana Bisu adalah Namamu

Source: https://static.zerochan.net/108.%28artist%29.full.1132380.jpg



(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});

Di ujung jemarimu
tak nampak kulit bersama tinta melebur
bukan juga kasar kayu berparut
atau pun garis gurat putih kapur

Di ujung jemarimu
(yang kau dekap di depan jantung)
(yang kau selimuti kain beludru)
(yang kau kecup tiap senja berlalu)
adalah denting nada mengalun


Baris katamu tak terucap oleh mulut
terganti oleh tuts-tuts yang tak pernah kau biarkan berdebu
Deras emosimu tak terangkai oleh serak pita suara
namun terwakili potongan melodi menyibak awan yang terus berarak

Kau ada dalam partitur
itu hidupmu; itu duniamu; itu adalah dirimu
Kau tersusun dalam simbol-simbol lagu
itu hatimu; itu jiwamu; itu adalah semestamu
Namun jika kurenggut itu semua darimu
masihkah kau ‘kan meraba-raba mencari kembali jati diri terbuang itu?

Sragen, 5 September 2016

in dark, there is fire

Mati seperti tawa yang padam sebelum usai. Mati seperti senyum yang pudar sebelum habis.

Hatiku yang mati ini tidak menginginkan apapun. Tinggal daging berdegup yang terus berdetak tanpa henti, sudah tak mampu lagi mengecap bibit dari keserakahan. Hatiku yang mati ini telah lelah hidup, meski enggan membagi napas dengan orang lain. Hatiku yang mati ini masih terjebak di dunia orang-orang hidup, karena sesungguhnya ia tidak ingin mati. Namun hatiku ini mati dan tiap degupnya mewakili kegagalanku untuk menjalani hidup.

Hatiku mati, kau dengar? Mati. Mati seperti tawa yang padam sebelum usai. Mati seperti senyum yang pudar sebelum habis. Mati seperti bayi yang tercekik di antara tangis.

Dan kau bukan pijar, bukan angin. Takkan mampu menjadikan hembus napas letih ini lebih berarti. Takkan mampu mengganti degup sekarat ini bersemangat lagi. Kau adalah tawa juga senyum, tapi euforia-mu tak memiliki makna lebih dari sekadar fenomena. Halunasi. Ilusi belaka. Kau adalah manusia dan hatimu merasa; berduka mungkin, karena aku, tapi tetap membentuk dan menampung emosi fana. Namun hatiku ini—hatiku yang mati ini—telah mati.

Terlalu sulitkah bagimu untuk memahami?

2016

hopeless = loneliness

Aku bermimpi tentang banyak hal. Tentang hujan. Tentang langit. Tentang dunia. Tentang aku di tubuh orang lain yang sedang menatap diriku sendiri. Tentang masa depan. Tentang masa lalu. Tentang bayangan yang mengejarku di kegelapan dan binar yang mencoba mencabikku dalam terang. Kadang-kadang, aku juga bermimpi tentang kau.

Aku bermimpi tentang banyak hal. Tentang hujan. Tentang langit. Tentang dunia. Tentang aku di tubuh orang lain yang sedang menatap diriku sendiri. Tentang masa depan. Tentang masa lalu. Tentang bayangan yang mengejarku di kegelapan dan binar yang mencoba mencabikku dalam terang. Kadang-kadang, aku juga bermimpi tentang kau.

Kata-kata yang kutulis di atas kertas belum tentu kejujuran, tapi bukanlah sepenuhnya kebohongan. Aku tidak tahu emosi apa yang sedang mengalir dari getaran tanganku menuju tinta hitam yang menggores kekosongan. Apatisme, mungkin. Atau keputusasaan. Harapan semu dari seseorang yang telah membunuh hatinya namun ingin mengecap indahnya perasaan lagi. Kau tahu aku egois. Kau tahu aku kejam. Tapi aku juga adalah bentuk lain dari kerapuhan; kristal tajam yang melindungi sebuah kehampaan.

Aku bahkan tidak tahu siapa engkau, meski aku berharap aku akan segera mengorek lebih banyak darimu. Aku ingin tahu siapa engkau, meski kau tidak ingin diketahui oleh siapapun. Apakah aku sedang berbicara dengan dirimu sekarang? Ataukah kau tengah membisu mendengarkanku bermonolog dengan sesuatu yang tak pernah ada? Kasihanilah aku. Dunia ini ramai, tapi aku berpura-pura tuli dan berpura-pura dalam sunyi dan berkata aku hanya sendirian.

Aku menginginkan engkau—siapapun engkau—orang macam apapun kau. Bahkan jika kau bukanlah manusia, tak mengapa.

Karena kadang-kadang aku juga bermimpi tentang diriku yang bukan manusia.

2016