BYMB: Ch. 01 – because of you i’m not wavering right now

Carmen merasa seperti terbakar. Kemarahan dan kegugupan–kekhawatiran–mengisi tubuhnya seperti minyak yang diumpankan pada kobaran api. Dalam hitungan jam, mungkin bahkan menit, ia akan terpaksa melepaskan kendali akan shirnya dan membakar sesuatu. Menghancurkan sesuatu.

Photo by Inga Seliverstova on Pexels.com

Seseorang pernah mengatakan padanya, vampir yang tidak memiliki hati tidak memiliki sihir.

Mungkin perkataan itu ada benarnya.

Continue reading “BYMB: Ch. 01 – because of you i’m not wavering right now”

Kelopak yang Meniupkan Angin #13

Separuh darinya adalah hutan. Maka separuh dari dirinya adalah satu yang enggan menumpahkan darah. Separuh darinya adalah milik rembulan. Maka hatinya tidak bisa menyalahkan naluri sang adik, yang lebih memilih menyerang daripada diserang.

Separuh darinya adalah hutan.
Maka separuh dari dirinya adalah satu yang enggan menumpahkan darah.
Separuh darinya adalah milik rembulan.
Maka hatinya tidak bisa menyalahkan naluri sang adik,
yang lebih memilih menyerang daripada diserang.

Continue reading “Kelopak yang Meniupkan Angin #13”

Kelopak yang Meniupkan Angin #12

Mata Luna masih terpaku pada bocah manusia yang terbaring di atas hamparan salju. Darah dari lehernya tidak lagi menetes, entah karena kebekuan udara di sekitar mereka atau sihir rembulan telah menutup lukanya. Mereka tidak bisa melihat wajahnya, yang membuat Victor akhirnya menyadari apa yang saudarinya tengah pikirkan.

Kesedihan menerpa dua puluh sembilan jam setelah kematian hadir dan pergi. Di sekitar mereka hanya salju, dinginnya menusuk tulang. Tetapi ketika mereka tatap bulan merah yang memudar di awal hari, mereka tahu bahwa api telah membakar darah yang tumpah hingga tak berbekas. Dalam benak Victor, implikasi bahwa hal seperti itu bisa  terjadi terasa seperti tamparan yang menyakitkan. Ia pikir klan mereka tak terkalahkan, tapi dalam satu malam, hanya mereka berdua yang tersisa. Dua bocah yang tersesat di bawah rembulan yang perlahan menghilang.

Fajar akan menghampiri lebih cepat dari kedipan mata. Maka Victor menarik ujung jubah yang menutupi figur ramping saudarinya, mengirim pesan yang bahkan tidak membutuhkan kemampuan telepati mereka untuk tersampaikan.

Continue reading “Kelopak yang Meniupkan Angin #12”

Kelopak Yang Meniupkan Angin #11

Mereka hanya dua bocah yang kehilangan rumah. Dua bocah yang kehilangan arah. Dua bocah yang mulai memijak tanah kemalangan.

Seperti kelopak bunga yang ditiup angin, dia runtuh.
Bocah manusia yang tak nampak lebih tua darinya,
Meski wajah senantiasa menipu.
Tangan Luna terulur, namun tidak menyentuh.
Karena seumur hidup,
Dia dibesarkan untuk menjadi pemburu.

Continue reading “Kelopak Yang Meniupkan Angin #11”

Jonathan Stroud’s “The Golem’s Eye”—Of Injustice, Camaraderie, and Blind Ambitions

In The Golem’s Eye, the second book of Bartimaeus trilogy by Jonathan Stroud, young Nathaniel has grown up to become a junior magician in the Security Ministry. His dazzling career and tactless arrogance attracts enemies from all over the place. It brings pressure to his main job—eradicating rebellion movement trying to overthrow the magician government, The Resistance—as each politicians keep trying to frame every incidents into his fault.


In The Golem’s Eye, the second book of Bartimaeus trilogy by Jonathan Stroud, young Nathaniel has grown up to become a junior magician in the Security Ministry. His dazzling career and tactless arrogance attracts enemies from all over the place. It brings pressure to his main job—eradicating rebellion movement trying to overthrow the magician government, The Resistance—as each politicians keep trying to frame every incidents into his fault.

Desperate for ally and enraged by the way other magicians look down on him, Nathaniel does something that he has promised not to do: summoning Bartimaeus and binding the djinn into a master-servant contract with him, again.

Continue reading “Jonathan Stroud’s “The Golem’s Eye”—Of Injustice, Camaraderie, and Blind Ambitions”

Kelopak Yang Meniupkan Angin #8

Dan dengan buas, sang adik menerjang. Menerkam. Mencakar. Mencabik.

Di antara dua,
selalu ada yang lebih lapar.
Bagi Luna, bulan sudah cukup.
Bunga sudah cukup.
Akar-akar tumbuhan sudah cukup.
Kehangatan yang ayahnya bagi lewat genggaman tangan dan pelukan ringan sudah lebih dari cukup.
Karena itu,
Victor selalu menjadi yang lebih lapar.

Continue reading “Kelopak Yang Meniupkan Angin #8”