Kelopak Yang Meniupkan Angin #10

Ada legenda tentang vampir. Ada legenda tentang makhluk penghisap darah yang bersemayam dalam kegelapan. Ada mitos tentang kutukan yang hadir bersama dengan tiap gigitan taring, tiap tetes darah yang tersedot. Ada mitos tentang makhluk yang memperlakukan manusia layaknya santapan makan malam–menu mewah yang takkan puas-puasnya dinikmati.

Ada legenda tentang vampir. Ada legenda tentang makhluk penghisap darah yang bersemayam dalam kegelapan. Ada mitos tentang kutukan yang hadir bersama dengan tiap gigitan taring, tiap tetes darah yang tersedot. Ada mitos tentang makhluk yang memperlakukan manusia layaknya santapan makan malam–menu mewah yang takkan puas-puasnya dinikmati.

Continue reading “Kelopak Yang Meniupkan Angin #10”

Kelopak Yang Meniupkan Angin #8

Dan dengan buas, sang adik menerjang. Menerkam. Mencakar. Mencabik.

Di antara dua,
selalu ada yang lebih lapar.
Bagi Luna, bulan sudah cukup.
Bunga sudah cukup.
Akar-akar tumbuhan sudah cukup.
Kehangatan yang ayahnya bagi lewat genggaman tangan dan pelukan ringan sudah lebih dari cukup.
Karena itu,
Victor selalu menjadi yang lebih lapar.

Continue reading “Kelopak Yang Meniupkan Angin #8”

Kelopak Yang Meniupkan Angin #5

Neneknya pernah bercerita tentang sosok pucat yang bangkit dari kubur, arwah gentayangan yang menolak kedamaian alam baka dan lebih memilih untuk menjalani sisa hidup di dimensi yang tidak menerima wujud baru mereka. Adik dari ayahnya, Paman Hotaru, sering memperingatkan Ren tentang serigala yang berburu selepas petang, dan bukan serigala biasa, tetapi serigala jadi-jadian dengan iris perak dan taring yang berbisa.

Di pegunungan tempat kakek-neneknya tinggal, atau bahkan di pantai selatan tempat Ren dan orangtuanya pernah berdiam, selalu ada legenda tentang mereka yang bukan manusia.

Neneknya pernah bercerita tentang sosok pucat yang bangkit dari kubur, arwah gentayangan yang menolak kedamaian alam baka dan lebih memilih untuk menjalani sisa hidup di dimensi yang tidak menerima wujud baru mereka. Adik dari ayahnya, Paman Hotaru, sering memperingatkan Ren tentang serigala yang berburu selepas petang, dan bukan serigala biasa, tetapi serigala jadi-jadian dengan iris perak dan taring yang berbisa. Paman Hotaru berkata bahwa mereka adalah manusia yang dulunya rupawan dan menjadi kebanggaan orangtua masing-masing, sebelum kedewasaan menjemput mereka bersama ambisi dan kedengkan, mengubah mereka menjadi binatang buas yang hanya bisa berburu di malam hari namun tak pernah bisa merasakan kenyang.

Continue reading “Kelopak Yang Meniupkan Angin #5”

Kelopak Yang Meniupkan Angin #4

Mereka muncul dari pusaran angin, perlahan terbentuk mulai dari kaki–dua pasang, satu kecil dan satu sedang–badan berbalut jubah gelap yang menggantung di atas lutut mereka, kemudian wajah.

Mereka muncul dari pusaran angin, perlahan terbentuk mulai dari kaki—dua pasang, satu kecil dan satu sedang—badan berbalut jubah gelap yang menggantung di atas lutut mereka, kemudian wajah.

Wajah yang Ren lihat pertama kali membuatnya terpaku.

Continue reading “Kelopak Yang Meniupkan Angin #4”