Kelopak Yang Meniupkan Angin #5

Neneknya pernah bercerita tentang sosok pucat yang bangkit dari kubur, arwah gentayangan yang menolak kedamaian alam baka dan lebih memilih untuk menjalani sisa hidup di dimensi yang tidak menerima wujud baru mereka. Adik dari ayahnya, Paman Hotaru, sering memperingatkan Ren tentang serigala yang berburu selepas petang, dan bukan serigala biasa, tetapi serigala jadi-jadian dengan iris perak dan taring yang berbisa.

Di pegunungan tempat kakek-neneknya tinggal, atau bahkan di pantai selatan tempat Ren dan orangtuanya pernah berdiam, selalu ada legenda tentang mereka yang bukan manusia.

Neneknya pernah bercerita tentang sosok pucat yang bangkit dari kubur, arwah gentayangan yang menolak kedamaian alam baka dan lebih memilih untuk menjalani sisa hidup di dimensi yang tidak menerima wujud baru mereka. Adik dari ayahnya, Paman Hotaru, sering memperingatkan Ren tentang serigala yang berburu selepas petang, dan bukan serigala biasa, tetapi serigala jadi-jadian dengan iris perak dan taring yang berbisa. Paman Hotaru berkata bahwa mereka adalah manusia yang dulunya rupawan dan menjadi kebanggaan orangtua masing-masing, sebelum kedewasaan menjemput mereka bersama ambisi dan kedengkan, mengubah mereka menjadi binatang buas yang hanya bisa berburu di malam hari namun tak pernah bisa merasakan kenyang.

Continue reading “Kelopak Yang Meniupkan Angin #5”