Kelopak yang Meniupkan Angin #13

Separuh darinya adalah hutan. Maka separuh dari dirinya adalah satu yang enggan menumpahkan darah. Separuh darinya adalah milik rembulan. Maka hatinya tidak bisa menyalahkan naluri sang adik, yang lebih memilih menyerang daripada diserang.

Separuh darinya adalah hutan.
Maka separuh dari dirinya adalah satu yang enggan menumpahkan darah.
Separuh darinya adalah milik rembulan.
Maka hatinya tidak bisa menyalahkan naluri sang adik,
yang lebih memilih menyerang daripada diserang.

Continue reading “Kelopak yang Meniupkan Angin #13”

Kelopak yang Meniupkan Angin #12

Mata Luna masih terpaku pada bocah manusia yang terbaring di atas hamparan salju. Darah dari lehernya tidak lagi menetes, entah karena kebekuan udara di sekitar mereka atau sihir rembulan telah menutup lukanya. Mereka tidak bisa melihat wajahnya, yang membuat Victor akhirnya menyadari apa yang saudarinya tengah pikirkan.

Kesedihan menerpa dua puluh sembilan jam setelah kematian hadir dan pergi. Di sekitar mereka hanya salju, dinginnya menusuk tulang. Tetapi ketika mereka tatap bulan merah yang memudar di awal hari, mereka tahu bahwa api telah membakar darah yang tumpah hingga tak berbekas. Dalam benak Victor, implikasi bahwa hal seperti itu bisa  terjadi terasa seperti tamparan yang menyakitkan. Ia pikir klan mereka tak terkalahkan, tapi dalam satu malam, hanya mereka berdua yang tersisa. Dua bocah yang tersesat di bawah rembulan yang perlahan menghilang.

Fajar akan menghampiri lebih cepat dari kedipan mata. Maka Victor menarik ujung jubah yang menutupi figur ramping saudarinya, mengirim pesan yang bahkan tidak membutuhkan kemampuan telepati mereka untuk tersampaikan.

Continue reading “Kelopak yang Meniupkan Angin #12”

Kelopak Yang Meniupkan Angin #11

Mereka hanya dua bocah yang kehilangan rumah. Dua bocah yang kehilangan arah. Dua bocah yang mulai memijak tanah kemalangan.

Seperti kelopak bunga yang ditiup angin, dia runtuh.
Bocah manusia yang tak nampak lebih tua darinya,
Meski wajah senantiasa menipu.
Tangan Luna terulur, namun tidak menyentuh.
Karena seumur hidup,
Dia dibesarkan untuk menjadi pemburu.

Continue reading “Kelopak Yang Meniupkan Angin #11”

Kelopak Yang Meniupkan Angin #10

Ada legenda tentang vampir. Ada legenda tentang makhluk penghisap darah yang bersemayam dalam kegelapan. Ada mitos tentang kutukan yang hadir bersama dengan tiap gigitan taring, tiap tetes darah yang tersedot. Ada mitos tentang makhluk yang memperlakukan manusia layaknya santapan makan malam–menu mewah yang takkan puas-puasnya dinikmati.

Ada legenda tentang vampir. Ada legenda tentang makhluk penghisap darah yang bersemayam dalam kegelapan. Ada mitos tentang kutukan yang hadir bersama dengan tiap gigitan taring, tiap tetes darah yang tersedot. Ada mitos tentang makhluk yang memperlakukan manusia layaknya santapan makan malam–menu mewah yang takkan puas-puasnya dinikmati.

Continue reading “Kelopak Yang Meniupkan Angin #10”

Kelopak yang Meniupkan Angin #9

Darah mengalir ke dagunya—sisa dari yang tak bisa tertelan oleh mulut. Rasanya pahit, mencekik. Victor meludahkan apa yang masih tertinggal di lidahnya—kulit yang terkoyak oleh kedua taringnya—dan melangkah mundur. Dia bisa mendengar teriakan Luna bergema di dalam benaknya, tapi terlalu banyak rangsangan daripada yang mampu Victor terima saat ini, jadi ia membangun dinding dan membuat semua suara—dari luar dan dalam kepalanya—membisu.

Darah mengalir ke dagunya—sisa dari yang tak bisa tertelan oleh mulut. Rasanya pahit, mencekik. Victor meludahkan apa yang masih tertinggal di lidahnya—kulit yang terkoyak oleh kedua taringnya—dan melangkah mundur. Dia bisa mendengar teriakan Luna bergema di dalam benaknya, tapi terlalu banyak rangsangan daripada yang mampu Victor terima saat ini, jadi ia membangun dinding dan membuat semua suara—dari luar dan dalam kepalanya—membisu.

Atau paling tidak ia mencoba.

Continue reading “Kelopak yang Meniupkan Angin #9”

Kelopak Yang Meniupkan Angin #8

Dan dengan buas, sang adik menerjang. Menerkam. Mencakar. Mencabik.

Di antara dua,
selalu ada yang lebih lapar.
Bagi Luna, bulan sudah cukup.
Bunga sudah cukup.
Akar-akar tumbuhan sudah cukup.
Kehangatan yang ayahnya bagi lewat genggaman tangan dan pelukan ringan sudah lebih dari cukup.
Karena itu,
Victor selalu menjadi yang lebih lapar.

Continue reading “Kelopak Yang Meniupkan Angin #8”

Kelopak Yang Meniupkan Angin #7

Suaranya berdesis, berdentang, seperti lonceng yang digetarkan di dalam panci di atas perapian. Victor tidak tahu kenapa ibunya melelehkan lonceng setiap malam tanpa bulan datang. Ia tidak pernah bertanya. Dan sekarang dia tidak akan lagi memiliki kesempatan untuk bertanya.

“Apa kalian?”

Suaranya berdesis, berdentang, seperti lonceng yang digetarkan di dalam panci di atas perapian. Victor tidak tahu kenapa ibunya melelehkan lonceng setiap malam tanpa bulan datang. Ia tidak pernah bertanya. Dan sekarang dia tidak akan lagi memiliki kesempatan untuk bertanya.

“Apa kalian?”

Continue reading “Kelopak Yang Meniupkan Angin #7”

Kelopak Yang Meniupkan Angin #6

Namun manusia atau bukan, mereka jelas anak-anak. Begitu muda. Tidak mungkin lebih tua dari Ren sendiri, yang di akhir musim panas akan mencapai empat belas tahun. Jadi ia memberanikan diri untuk mendekat, setelah sebelumnya meletakkan keranjang berisi ranting-ranting dan dahan pohon yang ia kumpulkan di sepanjang jalan menembus hutan dari desa di bawah bukit ke rumah orang tuanya di belakang gereja biru muda. Langkah kakinya bergemeresik di atas dedaunan kering, yang baru Ren sadari kemudian—sama seperti keberadaan dua sosok asing itu—adalah pemandangan yang salah. Tidak ada daun yang gugur di musim dingin. Bahkan tidak ada daun yang bisa ia temukan di tengah cuaca bersalju ini. Jadi dedaunan itu memang muncul dari ketiadaan dan bukan bagian dari hutan.

Continue reading “Kelopak Yang Meniupkan Angin #6”

Kelopak Yang Meniupkan Angin #5

Neneknya pernah bercerita tentang sosok pucat yang bangkit dari kubur, arwah gentayangan yang menolak kedamaian alam baka dan lebih memilih untuk menjalani sisa hidup di dimensi yang tidak menerima wujud baru mereka. Adik dari ayahnya, Paman Hotaru, sering memperingatkan Ren tentang serigala yang berburu selepas petang, dan bukan serigala biasa, tetapi serigala jadi-jadian dengan iris perak dan taring yang berbisa.

Di pegunungan tempat kakek-neneknya tinggal, atau bahkan di pantai selatan tempat Ren dan orangtuanya pernah berdiam, selalu ada legenda tentang mereka yang bukan manusia.

Neneknya pernah bercerita tentang sosok pucat yang bangkit dari kubur, arwah gentayangan yang menolak kedamaian alam baka dan lebih memilih untuk menjalani sisa hidup di dimensi yang tidak menerima wujud baru mereka. Adik dari ayahnya, Paman Hotaru, sering memperingatkan Ren tentang serigala yang berburu selepas petang, dan bukan serigala biasa, tetapi serigala jadi-jadian dengan iris perak dan taring yang berbisa. Paman Hotaru berkata bahwa mereka adalah manusia yang dulunya rupawan dan menjadi kebanggaan orangtua masing-masing, sebelum kedewasaan menjemput mereka bersama ambisi dan kedengkan, mengubah mereka menjadi binatang buas yang hanya bisa berburu di malam hari namun tak pernah bisa merasakan kenyang.

Continue reading “Kelopak Yang Meniupkan Angin #5”

Kelopak Yang Meniupkan Angin #4

Mereka muncul dari pusaran angin, perlahan terbentuk mulai dari kaki–dua pasang, satu kecil dan satu sedang–badan berbalut jubah gelap yang menggantung di atas lutut mereka, kemudian wajah.

Mereka muncul dari pusaran angin, perlahan terbentuk mulai dari kaki—dua pasang, satu kecil dan satu sedang—badan berbalut jubah gelap yang menggantung di atas lutut mereka, kemudian wajah.

Wajah yang Ren lihat pertama kali membuatnya terpaku.

Continue reading “Kelopak Yang Meniupkan Angin #4”