Kelopak yang Meniupkan Angin #2

Sebab dia adalah hutan dan “Luna” hanyalah topeng yang tak berhasil memupus jati dirinya. Jemarinya gemerlap menumbuhkan akar. Dan bibirnya terkulum menolak tetesan darah.

Jawabnya selalu: Tidak,
tidak,
dan tidak akan pernah.

Sebab dia adalah hutan
dan “Luna” hanyalah topeng yang
tak berhasil memupus jati dirinya.
Dia adalah hutan
dan langkah kakinya ringan menapaki tangga.
Jemarinya gemerlap menumbuhkan akar.
Dan bibirnya terkulum menolak tetesan darah.

Dia adalah hutan.
Tak akan pernah jadi pengabdi rembulan.

Atau begitu ibu tirinya terus berkata,
hingga satu malam bulan tak nampak,
dan rumah mereka diterjang lusinan pedang.
Sang ayah tewas, darahnya gelap
bahkan di bawah api berkobar.

Luna menahan napas di antara bayang-bayang.
Sulur-sulur lahir dan hidup, merangkai persembunyian.
Dan ibu tirinya menjulurkan tangan.
Katanya,
“Jaga adikmu.
Aku mohon padamu.”

Maka pada malam itu keluarganya yang lain mati
dan rumahnya yang lain mati.
Luna memeluk bayi yang tak bernapas,
wajahnya pucat bahkan di antara kegelapan.
Malam itu ayahnya mati,
ibu tirinya mati,
dan dia tidak tahu kemana harus berlari.

Ketika rembulan muncul di ambang akhir malam,
dua sosok menyeruak dari balik semak-semak.
Luna dan saudara laki-lakinya
kini sebatang kara,
kembali lagi pada keheningan hutan.

Sragen, 07 April 2020

Kelopak yang Meniupkan Angin #1

Dia adalah hutan. Cerah dan hidup. Perak terselip pada tiap helai rambut. Kelamnya malam terjebak dalam tiap pandang mata.

Dia adalah hutan,
Cerah dan hidup.
Perak terselip pada tiap helai rambut.
Kelamnya malam terjebak dalam tiap pandang mata.

Ibunya angin,
Muda dan rapuh.
Terkurung di balik baris ratusan pohon
hingga hatinya tercerabut oleh sepasang tangan
pengabdi rembulan.
Dan dalam berakhirnya kisah mereka
miliknya—sang anak—mulai terpintal.

Ayahnya memanggilnya “Luna”,
seperti bentuk pucat di antara bintang-bintang.
Mencoba memberinya keamanan,
satu keluarga lain,
dan sebuah rumah yang lain.
Sejak membuka mata,
hutan bukan lagi rumah beratapnya.
Yang ada adalah lantai berubin dan dinding pualam.
Jendela yang sempit dan seorang saudara laki-laki.

Ibu tirinya memalingkan muka
untuk bertahun-tahun lamanya.
Kedua tangan terlalu sibuk menuangkan
darah pada bayi yang tak kunjung bertambah besar.
Luna akan mengintip dari balik pintu di seberang ruangan,
berbisik,
“Akankah kau mencintaiku
seperti kau mencintai puteramu?”

Sragen, 07 April 2020