Memory of Dew

Sebab separuh sayapmu patah. Mana tega kutinggalkan engkau sendirian. Memorimu kacau berserakan, serupa helai-helai bulu yang tak kuat menahan terpaan.

Aku akan berlari. Cukup jauh hingga tidak terlihat lagi. Cukup dekat untuk tetap mengawasi.

Sebab separuh sayapmu patah. Mana tega kutinggalkan engkau sendirian. Memorimu kacau berserakan, serupa helai-helai bulu yang tak kuat menahan terpaan.

Continue reading “Memory of Dew”

Kelopak Yang Meniupkan Angin #3

Dia adalah hutan. Namun separuh darinya masih milik rembulan. Ujung jarinya menumpahkan darah pada bibir pucat bayi yang berbagi ayah dan berbagi kehilangan.

Dia adalah hutan,
Namun separuh darinya masih milik rembulan.
Di bawah tapak kakinya ada salju yang tak lagi padat
Dan dalam dekap tangannya bergetar jantung yang kembali berdetak.
Ujung jarinya menumpahkan darah
Pada bibir pucat bayi yang berbagi ayah
Dan berbagi kehilangan.

Continue reading “Kelopak Yang Meniupkan Angin #3”

心臓: Daging Tak Bisa Patah

Hati yang patah, kataku, tidaklah nyata. Sebab dia bukanlah potongan marmer yang bisa dibanting dan tergores pecah.

This short prose is inspired by DAY6’s “Congratulations”. Lyrics as stated above.

Hati yang patah, kataku, tidaklah nyata. Sebab dia bukanlah potongan marmer yang bisa dibanting dan tergores pecah. Ia bukanlah sebuah dahan yang bisa ditekan angin hingga kehilangan penopang. Ia bukanlah tulang yang bisa terbentur dan menimbulkan bunyi bergemeretak.

Ia daging, berdegup dan berdetak. Ia irama yang separuh nyata, sisanya tak kasat mata. Ia adalah wadah yang menampung emosi dan merangkum yang tak terkatakan.

Ia tak bisa patah.

Atau begitulah setidaknya aku percaya.

(Namun siapa aku untuk dipercaya.)

Sragen, 03 Februari 2021

Kelopak yang Meniupkan Angin #2

Sebab dia adalah hutan dan “Luna” hanyalah topeng yang tak berhasil memupus jati dirinya. Jemarinya gemerlap menumbuhkan akar. Dan bibirnya terkulum menolak tetesan darah.

Jawabnya selalu: Tidak,
tidak,
dan tidak akan pernah.

Sebab dia adalah hutan
dan “Luna” hanyalah topeng yang
tak berhasil memupus jati dirinya.
Dia adalah hutan
dan langkah kakinya ringan menapaki tangga.
Jemarinya gemerlap menumbuhkan akar.
Dan bibirnya terkulum menolak tetesan darah.

Dia adalah hutan.
Tak akan pernah jadi pengabdi rembulan.

Atau begitu ibu tirinya terus berkata,
hingga satu malam bulan tak nampak,
dan rumah mereka diterjang lusinan pedang.
Sang ayah tewas, darahnya gelap
bahkan di bawah api berkobar.

Luna menahan napas di antara bayang-bayang.
Sulur-sulur lahir dan hidup, merangkai persembunyian.
Dan ibu tirinya menjulurkan tangan.
Katanya,
“Jaga adikmu.
Aku mohon padamu.”

Maka pada malam itu keluarganya yang lain mati
dan rumahnya yang lain mati.
Luna memeluk bayi yang tak bernapas,
wajahnya pucat bahkan di antara kegelapan.
Malam itu ayahnya mati,
ibu tirinya mati,
dan dia tidak tahu kemana harus berlari.

Ketika rembulan muncul di ambang akhir malam,
dua sosok menyeruak dari balik semak-semak.
Luna dan saudara laki-lakinya
kini sebatang kara,
kembali lagi pada keheningan hutan.

Sragen, 07 April 2020

Kelopak yang Meniupkan Angin #1

Dia adalah hutan. Cerah dan hidup. Perak terselip pada tiap helai rambut. Kelamnya malam terjebak dalam tiap pandang mata.

Dia adalah hutan,
Cerah dan hidup.
Perak terselip pada tiap helai rambut.
Kelamnya malam terjebak dalam tiap pandang mata.

Ibunya angin,
Muda dan rapuh.
Terkurung di balik baris ratusan pohon
hingga hatinya tercerabut oleh sepasang tangan
pengabdi rembulan.
Dan dalam berakhirnya kisah mereka
miliknya—sang anak—mulai terpintal.

Ayahnya memanggilnya “Luna”,
seperti bentuk pucat di antara bintang-bintang.
Mencoba memberinya keamanan,
satu keluarga lain,
dan sebuah rumah yang lain.
Sejak membuka mata,
hutan bukan lagi rumah beratapnya.
Yang ada adalah lantai berubin dan dinding pualam.
Jendela yang sempit dan seorang saudara laki-laki.

Ibu tirinya memalingkan muka
untuk bertahun-tahun lamanya.
Kedua tangan terlalu sibuk menuangkan
darah pada bayi yang tak kunjung bertambah besar.
Luna akan mengintip dari balik pintu di seberang ruangan,
berbisik,
“Akankah kau mencintaiku
seperti kau mencintai puteramu?”

Sragen, 07 April 2020

Petrichor, Ketika Hujan Hanya Meninggalkan Jejak Untukku Seorang

Ada seorang gadis yang namanya kutulis berulang-ulang di antara serpihan cermin. Terkadang dengan tumpahan tinta. Terkadang dengan tetesan krayon terbakar. Terkadang dengan sisa air mata.

Ada seorang gadis yang namanya kutulis berulang-ulang di antara serpihan cermin.
Terkadang dengan tumpahan tinta.
Terkadang dengan tetesan krayon terbakar.
Terkadang dengan sisa air mata.
Ada seorang gadis yang namanya tidak bisa berhenti kugumamkan di antara doa.
Terkadang aku mengharapkan kebahagiaan.
Terkadang aku menginginkan sebentuk penerimaan.
Terkadang aku tidak ingin menjadi satu-satunya yang terluka.
Ada seorang gadis yang namanya berusaha kulupa.
Terkadang kuhapus dengan tumpukan pekerjaan.
Terkadang kubuang bersama perjalanan panjang ke belahan lain dunia.
Terkadang kukubur bersama barang-barang yang masih menyimpan aromanya.
Ada seorang gadis yang namanya terlalu menyakitkan untuk didengar.
Terkadang tersebut oleh temanku dalam reuni percakapan.
Terkadang mengambang dalam pertanyaan penuh kekhawatiran.
Terkadang didesiskan bersama argumen yang menyuruhku kembali pada rasionalitas.
Ada seorang gadis yang namanya melambangkan lebih dari satu perasaan.
Terkadang aku menganggapnya cinta.
Terkadang aku yakin itu obsesi belaka.
Terkadang aku sadar bahwa ada hati yang tidak pernah berhenti patah.
Ada seorang gadis yang tidak menginginkan namanya berada dalam genggaman.
Sebab ia mengganti alamat.
Sebab ia tak menjawab panggilan.
Sebab ia tak lagi bercakap dengan teman yang kupunya.
Sebab ia tak lagi menoleh ke belakang meski aku berteriak meraung merana.

24 Januari 2019

the sun still shines

Akhir-akhir ini, semua puisi yang kutulis mengambil kepingan kenangan tentang dirimu, mengisi nostalgia dengan lebih dari sekadar kata rindu. Aku tidak pernah rindu, terutama tidak kepadamu. Terutama tidak ketika aku berada jauh dari tempat yang pernah kita sebut milik berdua. (Kau dengar kebohongan? Ada lebih dari satu kutulis dalam bait ini. Jika kau masih ada, kau akan sadar. Tidak ada orang yang lebih mengenalku daripada dirimu.)

Desktop Wallpaper Template

Dua puluh lima hari setelah kau pergi, aku menengadah dan dibutakan oleh matahari. Langit rasanya tidak pernah secerah ini dalam beberapa minggu terakhir. Jika kau menuduh bahwa duka telah membuat pandanganku kabur, aku akan terpaksa membantah. Ini fakta: langit belum pernah secerah ini sebelumnya.
Kau mungkin ingat apa yang sering kukatakan setelah memakai kacamata baru, bagaimana pemandangan di sekelilingku berubah jelas, seolah-olah selama ini aku membuka mata tanpa benar-benar melihat. Bagaimana warna bisa menjadi tajam, seolah-olah ada garis yang ditambahkan untuk memisahkan setiap perubahan gradasi. Kurang lebih, hari seperti itu yang tengah kujumpai. Dua puluh lima hari setelah kau pergi, aku menengadah, dan meski aku tidak percaya akuu bisa menemukanmu di atas sana, separuh hatiku berharap.
Akhir-akhir ini, semua puisi yang kutulis mengambil kepingan kenangan tentang dirimu, mengisi nostalgia dengan lebih dari sekadar kata rindu. Aku tidak pernah rindu, terutama tidak kepadamu. Terutama tidak ketika aku berada jauh dari tempat yang pernah kita sebut milik berdua. (Kau dengar kebohongan? Ada lebih dari satu kutulis dalam bait ini. Jika kau masih ada, kau akan sadar. Tidak ada orang yang lebih mengenalku daripada dirimu.)
Bagiku, kepergianmu merampas. Ada satu zona yang kusisakan kosong untukmu, kuisi dengan tekad melanjutkan hidup yang kudapat darimu. Kemudian kau pergi, dan kekosongannya tidak lagi memiliki pemilik. Aku perlu belajar bertahan hidup lagi. Aku perlu belajar melangkahkan kaki sendirian lagi. Dan, oh, aku akan belajar (kau tahu betapa takutnya aku pada kehampaan). Aku hanya tidak tahu dahan mana yang perlu kuraih sebelum aku kembali tersandung. (Kau akan bilang: biarkanlah dirimu jatuh.)
Hari ini dua puluh lima hari setelah kau pergi. Kukatakan, aku baik-baik saja. Duniaku masih sama; retak, tapi masih tegak. Warnanya berubah karena kini kau harus melihatnya dari sudut yang berbeda. Aku tidak tahu kau di mana. Aku tidak percaya aku bisa menemukanmu di atas sana, bahkan di saat langit sedang cerah. Bisikanmu masih sama pula: lihat ke langit.
Aku menengadah, lalu dibutakan oleh matahari. Katamu selalu: tidak pernah ada jalan buntu.
(Depok, 16 November 2018
Eta Wardana)

us, in impermanence

Kita bisa mengulang, tapi aku menolak lupa. Maka alih-alih berada di garis awal, akan kulanjutkan menjalin benang yang sempat bercabang dan berpisah. Kita bisa mengulang, tapi garis matamu adalah satu yang tak bisa dilupa.

Kita bisa mengulang, tapi aku menolak lupa. Maka alih-alih berada di garis awal, akan kulanjutkan menjalin benang yang sempat bercabang dan berpisah. Kita bisa mengulang, tapi garis matamu adalah satu yang tak bisa dilupa. Maka alih-alih jatuh cinta, yang ada hanya kerinduan akan sesuatu yang pernah kita miliki di suatu masa. Kita bisa mengulang, tapi satu pertanyaan masih tersisa; di antara aku dan dunia, engkau dan mimpi terpendam–mana yang layak untuk dikorbankan?

Satu hal jelas: kita tidak akan memilih satu sama lain. Maka biarlah apa yang terjadi, terjadi. Mari melangkah dari titik di mana kita sempat berakhir.

Satu hal belum jelas: kemana kita akan melangkah dari titik yang sempat mengakhiri?

Depok, 24 Maret 2018

for all we know we’re together

Kau tahu aku akan mengejar. Aku tahu kau akan mengejar. Dan kita sama-sama tahu di antara kita tidak ada yang akan tertinggal.

Empat langkah, empat langkah, empat langkah. Kemudian kita akan melompat dan menumbuhkan sayap dan semua yang dibenci akan tertinggal di belakang. Semua yang tidak ingin mengejar akan tertinggal di belakang.

Kau tahu siapa. Aku tahu siapa. Maka di antara kita tidak perlu ada kata.

Kau tahu aku akan mengejar. Aku tahu kau akan mengejar. Dan kita sama-sama tahu di antara kita tidak ada yang akan tertinggal.

Depok, 12 Januari 2018

Puisi: tentang bagaimana aku tidak lagi membiarkanmu ada

Suatu hari aku mengangkat telepon dan suaramu menggemuruh bersama bunyi statis komunikasi tanpa tatap wajah. Aku tertawa. Kau satu-satunya orang yang bisa membuatku tertawa.

2018: tentang mengapa aku pernah membiarkanmu ada

bagian i:
JANUARI.
Hujan. Favorit. Kebingungan. Penghiburan.
Suatu hari aku mengangkat telepon dan suaramu menggemuruh bersama bunyi statis komunikasi tanpa tatap wajah. Aku tertawa. Kau satu-satunya orang yang bisa membuatku tertawa. (Dulu, tidak lagi, bukan satu-satunya sekarang, mengapa berubah?)
(Kurasa aku yang berubah.)

 

 
Bintang jatuh. Bintang mati. Supernova. Lubang hitam. Januari. Ah, Januari.

 

Bahkan dari jarak 78 km, aku bisa merasakan senyummu mengembang.
“Selamat ulang tahun!” Kau bilang, serupa seperti satu tahun lalu, dua tahun lalu, atau bahkan tiga minggu setelah kita pertama kali bertemu (Terlalu cepat dekat, bukankah begitu?) Tapi ini kita–kau dan aku.
Ini aku. Ini engkau. Ini kita.
(Bagaimana sekarang?)
Itu aku. Itu engkau. Di mana kita?
(Mengapa perlu ditanyakan sekarang?)
 
2018: tentang bagaimana aku tidak lagi membiarkanmu ada