in dark, there is fire

Mati seperti tawa yang padam sebelum usai. Mati seperti senyum yang pudar sebelum habis.

Hatiku yang mati ini tidak menginginkan apapun. Tinggal daging berdegup yang terus berdetak tanpa henti, sudah tak mampu lagi mengecap bibit dari keserakahan. Hatiku yang mati ini telah lelah hidup, meski enggan membagi napas dengan orang lain. Hatiku yang mati ini masih terjebak di dunia orang-orang hidup, karena sesungguhnya ia tidak ingin mati. Namun hatiku ini mati dan tiap degupnya mewakili kegagalanku untuk menjalani hidup.

Hatiku mati, kau dengar? Mati. Mati seperti tawa yang padam sebelum usai. Mati seperti senyum yang pudar sebelum habis. Mati seperti bayi yang tercekik di antara tangis.

Dan kau bukan pijar, bukan angin. Takkan mampu menjadikan hembus napas letih ini lebih berarti. Takkan mampu mengganti degup sekarat ini bersemangat lagi. Kau adalah tawa juga senyum, tapi euforia-mu tak memiliki makna lebih dari sekadar fenomena. Halunasi. Ilusi belaka. Kau adalah manusia dan hatimu merasa; berduka mungkin, karena aku, tapi tetap membentuk dan menampung emosi fana. Namun hatiku ini—hatiku yang mati ini—telah mati.

Terlalu sulitkah bagimu untuk memahami?

2016

hopeless = loneliness

Aku bermimpi tentang banyak hal. Tentang hujan. Tentang langit. Tentang dunia. Tentang aku di tubuh orang lain yang sedang menatap diriku sendiri. Tentang masa depan. Tentang masa lalu. Tentang bayangan yang mengejarku di kegelapan dan binar yang mencoba mencabikku dalam terang. Kadang-kadang, aku juga bermimpi tentang kau.

Aku bermimpi tentang banyak hal. Tentang hujan. Tentang langit. Tentang dunia. Tentang aku di tubuh orang lain yang sedang menatap diriku sendiri. Tentang masa depan. Tentang masa lalu. Tentang bayangan yang mengejarku di kegelapan dan binar yang mencoba mencabikku dalam terang. Kadang-kadang, aku juga bermimpi tentang kau.

Kata-kata yang kutulis di atas kertas belum tentu kejujuran, tapi bukanlah sepenuhnya kebohongan. Aku tidak tahu emosi apa yang sedang mengalir dari getaran tanganku menuju tinta hitam yang menggores kekosongan. Apatisme, mungkin. Atau keputusasaan. Harapan semu dari seseorang yang telah membunuh hatinya namun ingin mengecap indahnya perasaan lagi. Kau tahu aku egois. Kau tahu aku kejam. Tapi aku juga adalah bentuk lain dari kerapuhan; kristal tajam yang melindungi sebuah kehampaan.

Aku bahkan tidak tahu siapa engkau, meski aku berharap aku akan segera mengorek lebih banyak darimu. Aku ingin tahu siapa engkau, meski kau tidak ingin diketahui oleh siapapun. Apakah aku sedang berbicara dengan dirimu sekarang? Ataukah kau tengah membisu mendengarkanku bermonolog dengan sesuatu yang tak pernah ada? Kasihanilah aku. Dunia ini ramai, tapi aku berpura-pura tuli dan berpura-pura dalam sunyi dan berkata aku hanya sendirian.

Aku menginginkan engkau—siapapun engkau—orang macam apapun kau. Bahkan jika kau bukanlah manusia, tak mengapa.

Karena kadang-kadang aku juga bermimpi tentang diriku yang bukan manusia.

2016